• Uncategorized
  • 1

undang-undang di indonesia sudah salah dari yang membuat aturan

Setelah sekian lama saya hanya menulis artikel mengenai komputer, kali saya ingin menulis mengenai fenoma yang terjadi dikehidupan sehari-hari. Artikel ini semata-mata hanya merupakan opini pribadi dari saya. Oleh karena itu belum tentu sepenuhnya benar. Apa yang saya tulis berdasarkan pemikiran saya dan sudut pandang saya dalam melihat sebuah peristiwa.

Artikel pertanda saya di kategori ini adalah mengenai sistem hukun di indonesia. Sudah lama ini terpikirkan oleh saya sejak saya duduk di bangku SMP, namun sampai sekarang sepertinya tidak pernah ada jawaban yang menurut saya tepat. Sebelum saya bukanlah orang hukum. Saya tidak kuliah Ilmu hukum dan pengetahuan saya tentang hukum pastilah sangat minim.

undang-undang di indonesia sudah salah dari yang membuat aturan. Saya mengatakan demikian karena menurut sepengetahuan saya undang-undang memiliki tingkatan. Mulai dari UUD 1945 yang paling tinggi sampai undang-undang dibawahnya terus terang saja saya tidak hafal karena memang pada dasarnya saya bukan orang hukum heheheh. Mengacu pada pernyataan bahwa undang-undang yang dibuat tidak akan menyalahi undang-undang di atasnya. Pernytaan ini saya dapatkan waktu saya belajar di SMP, lupa waktu itu pelajaran apa. Logikanya undang-undang memiliki aturan yang sama. Namun pada prakteknya banyak undang-undang yang saling bertentangan.

Saya mengambil contoh kasus ormas FPI yang merazia warung makan pada siang hari di bulan puasa. Sebelumnya saya tidak ingin SARA atau menyudutkan salah satu ormas, saya hanya ingin menunjukkan dimana undang-undang yang ada saling bertentangan. FPI melakukan razia berdasarkan PERDA di sebuah daerah bahwa warung makan tidak boleh buka siang hari selama bulan ramadhan. Aturan tersebut apakah sesuai dengan UUD 1945??? dalam UUD 1945 ada yang mengatur mengenai hak asasi. Tentunya larangan ini menyalahi hak asasi manusia dimana setiap warga negara bebas untuk makan. Orang yang terkena razia akan merasa terganggu karena sedang enak-enaknya makan kemudian terjadi razia yang  menurunkan nafsu makan.

Kenyataanya orang yang kena razia tidak bisa melakukan tuntutan pelanggaran hak asasi. Padahal klo dikaji lebih mendalam kesalahan terletak pada pembuat PERDA. Tapi bisakah pembuat perda dihukum karena sudah melanggaran hak asasi manusia??? berdasarkan hasil diskusi saya dengan seorang teman yang sarjana hukum hal tersebut tidak dimungkinkan. Sang permbuat perda secara hukum memiliki hak untuk membuat undang-undang. Apabila terjadi kesalahan yang dilakukan hanya merevisi PERDA dan yang membuat aturan tidak kena sanksi apapun. Padahal tindakan dari yang membuat undang-undang sudah merugikan rakyat kecil yang tidak tahu apa-apa. Ini baru sebagian kasus kecil saja, masih banyak kasus semacam ini. Kerugian mungkin saja bisa sangat memberatkan seperti dipenjara misalnya.

Dari kasus ini sekali lagi saya hanya menyoroti undang-undangnya bukan pada ormas FPI. Saya tidak menyalahkan karena toh mereka menggunakan perda tersebut dan polisi juga tidak menghentikan aksi mereka. Polisi hanya mengawasi aksi razia tersebut.

Intinya klo yang bikin undang-undang saja salah bagaimana hukum bisa menjadi alat yang menjamin hak-hak warga masyarakat.

 

semua ini murni pemikiran dari saya yang buta sama sekali tentang hukum dan hanya dapat pendidikan mengenai hukum secara dasar. Semoga bisa menjadi bahan masukan atau pemikiran. Silahkan klo ada yang ingin menanggapi mungkin yang saya utaran ini salah. Sampai sekarang saya belum mendapatkan jawaban yang benar2 dapat saya terima

You may also like...

1 Response

  1. iqbal says:

    gampang jawabannya tentang artikel diatas,
    Pernah denger pernyataan gini ga kawan:
    1. "antar pemeluk agama harus saling menghormati".
    2. jangan mengganggu agama lain yg sedang melaksanakan ibadahnya.
    Kawan tau ga, Itu pelajaran PPKN waktu SD loh :D.. Jadi, kalo kawan salah satu orang yg sosial dan solideritas, kawan pasti bisa menghargai agama lain :D..
    Jadi menurut gw, kawan salah mengartikan, perda itu tdk salah, karena dia (perda) mencorong kepada saling menghargai & menghormati kepada pemeluk agama lain, dan menghargai& menghormati ketika dia sedang melaksanakan ibadahnya.
    Ok, kawan mungkin sudah mengerti? Itu salah satu pendapat gw 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *