Mengenal Teknologi 4G LTE di indonesia part (2)

Tulisan kali ini adalah lanjutan dari tulisan saya sebelumnya. Pada tulisan kali ini saya akan membahasa mengenai pemain baru 4G LTE di indonesia dan perkembangan dari teknologi ini.

Belum lama ini smartfren salah satu dan satu-satunya operator CDMA di indonesia meluncurkan teknologi 4G LTE terbaru miliknya. Smartfren menurut saya cukup menarik untuk dibahas. Rencana pemerintah untuk menghapus nomer lokal membuat pemain CDMA akhirnya menutup layanannya. Flexi menutup layanan CDMA-nya dan memberikan alokasi frekuensi yang dimilikinya untuk E-GSM miliki telkomsel. Indosat juga sudah menutup layanan starone yang dirasa sudah tidak profit dan teknologinya tidak berkembang. Esia akhirnya bergabung jaringan dengan smartfren.

Pertanyaanya apakah CDMA masih akan eksis? melihat perkembangan yang ada CDMA akan mulai ditinggalkan. Di indonesia sendiri saat ini praktis hanya smartfren saja yang masih menggelar teknologi CDMA. Smartfren cukup konsisten dengan CDMA sampai harus menghadirkan perangkat CDMA untuk mendapatkan banyak pelanggan. Tentunya bagi smartfren tidak mudah untuk menutup layanan CDMA karena investasinya yang masih cukup besar (belum balik modal). Namun apabila tetap berharap pada CDMA tentu akan tertinggal dengan operator lain yang sudah menerapkan teknologi LTE yang kemampuanya bisa 10x lebih cepat dibanding EVDO CDMA.

Smartfren cukup beruntung sebagai operator CDMA yang akhirnya bisa mengembangkan teknologi LTE dalam waktu yang cukup cepat dimana operator GSM baru akan rampung akhir tahun ini untuk penataan freq 1800. Smartfren sudah lebih pede jualan LTE duluan padahal di awal tahun terkesan smartfren baru mau mulai.

Kenapa saya bilang smartfren beruntung? mari kita flashback sedikit ke belakang. Smartfren adalah gabungan dari operator mobile-8 dan smart. Kala itu mobile-8 memegang lisensi di jaringan CDMA 850 sama dengan flexi dan Esia. Sementara smart entah mengapa dahulu diberikan frekuensi 1900 oleh pemerintah. Pada perkembanganya akhirnya mobile-8 ini bergabung dengan smart dengan peralihan hutang mobile-8 di salah satu perusahaan sinarmas menjadi saham lalu akhirnya muncullah smartfren,

Pada masa itu smartfren beroperasi dengan 2 frekuensi EVDO 850mhz dan 1900mhz. Saat itu frekuensi 850mz memiliki kecepatan yang cukup baik sampai akhirnya banyak perangkat CDMA EVDO support di frekuensi itu. Frekuensi 1900 seakan hanya jadi backup saja. Tiba pada saat penataan frekuensi 3G yang berada di 2100mhz. Operator AXIS yang saat itu belum dibeli XL terkena imbas interferensi dari frekuensi 1900 milik smartfren. Gangguan tersebut tidak bisa diatasi sampai smartfren harus pindah dari frekuensi itu.

Pemerintah kemudian memberikan frekuensi 2300mhz sebanyak 30mhz sebagai ganti dari 1900 tentunya smartfren perlu membayar ijin. Frekuensi ini lah yang akhirnya digunakan oleh smartfren untuk menggelar teknologi LTE-nya. Smartfren mendapatkan ijin frekuensi 2300 sifatnya nasional beda dengan bolt yang hanya regional. Di sinilah yang membuat smartfren unggul secara jangkauan dibanding dengan bolt. Bolt perlu menunggu ijin dari pemerintah terkait rencana frekuensi 2300 dibuka secara nasional namun untuk smartfren nampaknya sudah bisa beroperasi di frekuensi tersebut secara nasional.

Tidak hanya frekuensi 2300 saja namun smartfren juga menggelar LTE di frekuensi 850mhz. Kok bisa? pemerintah merubah frekuensi 850mhz menjadi teknologi netral seperti frekuensi 2300. Hal ini karena frekuensi tersebut yang sebelumnya digunaan CDMA mulai ditinggalkan. Seperti flexi yang merubahnya menjadi E-GSM. Smartfren yang mendapatkan tambahan frekuensi dari Esia di 850mhz, memanfaatkan frekuensi tersebut untuk teknologi LTE-nya. Jadi bisa dibilang frekuensi 850 mirip dengan 900 karena sama-sama menggunakan teknologi FDD dan kecepatanya tidak maksimal karena masih digunakan untuk CDMA juga.

Dengan begitu smartfren dapat menjangkau secara nasional karena memiliki 2 frekuensi. Terlebih jaringan CDMA-nya di frekuensi 850 coveragenya sudah banyak sehingga tinggal pasang modul LTE saja di BTS-nya. Smartfren berhasil menggungguli bolt secara coverage dan mengungguli operator GSM secara speed karena saat ini tentu belum semua daearah tercover LTE 1800mhz.

Lebar frekuensi yang dimiliki smartfren ini tentu menjadi ancaman bagi operator GSM.Persaingan handset dengan operator GSM pun menjadi semakin kompetitif. Smarfren tidak perlu lagi jor-joran jualan perangkat Andromaxnya. Sudah cukup banyak handset yang support FDD 850 maupun TDD 2300. Perangkat tersebut sudah bisa digunakan untuk jaringan smartfren.

Memang menjadi kendala adalah pada fitur telp dan SMS seperti yang saya jelaskan pada tulisan saya sebelumnya. Tentunya smartfren sangat menginginkan teknologi VoLTE segera diterapkan agar tidak perlu lagi handset CDMA cukup LTE saja. Operator lan seperti bolt pun juga menginginkan hal tersebut agar dapat segera mengelar fitur Voice. Ketika fitur VoLTE aktif untuk semua operator maka tidak perlu lagi jaringan GSM dan CDMA. Semua akan dilakukan dijaringan LTE.

Perkembangan inilah yang ke depan akan dilakukan para operator LTE. Saat ini mereka menanggung cost yang tinggi untuk maintain jaringan GSM dan CDMA pada frekuensi yang berbeda. Jika semua sudah menggunakan LTE maka bandwith akan dapat digunakan secara maksimal dan beban cost lebih murah karena tidak perlu lagi maintain jaringan GSM dan CDMA.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *