Kolaborasi Dengan Intel ASUS Sukes Merajai Penjualan Smartphone Tanah Air

Membaca berita beberapa minggu yang lalu tentang suksesnya ASUS merajai pasar smartphone tanah air membuat saya tertarik mengulas sepak terjang Smartphone ASUS di tanah air.

Nama ASUS sebagai brand di indonesia banyak dikenal pada produk Notebook yang menyasar pada segmen mengah ke bawah. Brand ASUS banyak menghadirkan produk notebook beragam tipe mulai dari seri low-end hingga kelas Enterprise. Selain notebook ASUS sebenarnya juga banyak menjual perangkat PC seperti Motherboard, VGA Card hingga networking seperti WIFI Router.

Di awal debutnya pada pasar smartphone ASUS pertama kali mengeluarkan smartphone dengan kemampuan GPS terbaik bekerja sama dengan Garmin. Sayangnya jumlah penjualanya tidak begitu bagus dan kurang terdengar di indonesia. Kala itu pasar smartphone sepertinya belum menjadi fokus yang menarik bagi ASUS. Di ranah mobile ASUS mulai banyak menghadirkan perangkat tablet yang multifungsi sebut saja ASUS transformer yang bisa berubah dari tablet menjadi laptop. Lalu muncul 3 in 1 dengan produk padfone. Sayangnya harganya yang kelewat mahal dan nggak terjangkau membuatnya kurang laku di pasaran. Apalagi kala itu kualitas ASUS masih belum teruji untuk sebuah mobile device.

Berkat kerja sama dengan Google, ASUS menghadirkan sebuah tablet dengan harga yang cukup terjangkau yaitu Nexus 7. Saya masih ingat betul pada saat itu pre-order nexus 7 yang jumlahnya sangat terbatas. Berangkat dari situ, ASUS nampaknya mulai fokus ke ranah smartphone. ASUS mulai mencoba masuk ke pasar smartphone.

Entah bagaimana ide kolaborasi ini bisa muncul, ASUS menggandeng Intel sebagai pemasok CPU smartphone yang menjadi awal dikenalnya brand ASUS di indonesia. ASUS Zenfone 4, 5, dan 6 adalah smartphone ASUS yang menyajikan spesifikasi di atas rata-rata dengan harga yang lebih murah dibanding brand lain.

Kabar yang beredar kala itu, Intel memberikan diskon yang cukup besar kepada ASUS sehingga ASUS bisa menjual zenfone dengan harga yang terjangkau. Intel sendiri kala itu adalah pemain baru dalam dunia prosesor mobile. Prosesor intel atom Z2580 yang hanya 2 core mampu mengalahkan rivalnya yang saat itu sudah menggunakan quad core prosesor. Kinerjanya yang tinggi ini ternyata memiliki masalah kompatibilitas aplikasi pada OS Android. Wajar saja karena intel menggunakan basis prosesor X86 yang digunakan pada PC dan Laptop pada environment android yang menggunakan ARM. Aplikasi android semuanya jelas dibuat untuk prosesor ARM bukan X86.

Selain kelemahan tersebut, Zenfone juga menyimpan banyak keluhan. Prosesor intel menghasilkan panas yang berlebihan dibanding prosesor ARM. Konsumsi daya yang juga lebih banyak dibanding prosesor ARM. Panas dan boros itulah keluhan pengguna zenfone yang paling banyak.

Keluhan-keluhan tersebut jika kita tengok lebih jauh berasal dari prosesor Intel namun ternyata tidak menjadikan ASUS kapok berpartner dengan Intel. Entah setan apa yang merasuki petinggi ASUS, produk zenfone generasi kedua mereka lahirkan kembali dengan prosesor Intel Atom. Seakan ASUS tidak melihat isu-isu di prosesor Intel di platform android sebagai ancaman yang dapat menghilangkan minat pengguna. Ternyata keputusan ini lah yang membuat ASUS mampu merajai pangsa pasar di indonesia.

Dengan strategi yang mungkin saja hampir sama dengan sebelumnya yaitu potongan harga prosesor. ASUS mampu menawarkan Smartphone yang untuk pertama kalinya menggunakan RAM 4GB dengan harga yang terjangkau. Pada saat itu vendor lain masih banyak berkutat di RAM 2-3GB. Senjata RAM 4GB ini bukanlah hanya sekedar kapasitas saja.Intel sebagai partner ASUS pun mulai serius menggarap pasar smartphone. Intel membuat sendiri kernel untuk prosesor mobilenya dengan basis 64bit dan dukungan Android lolipop terbaru. Selain itu intel diuntungkan juga dengan keluarnya Android Runtime Translation yang dibenamkan secara default pada android 5.0 lolipop. Pasal dengan ART ini intel tidak perlu lagi harus memberikan “emulator” agar aplikasi android bisa berjalan lancar di platformnya. ART dibuat google untuk mampu mendukung kompatibilitas aplikasi android pada hampir semua platform CPU.

Masalah panas dan boros battery juga berhasil diselesaikan oleh Intel berkat perbaikan arsitektur Intel Atom Moorefield yang tidak lagi menggunakan fabrikasi 32nm namun sudah 22nm dimana kala itu qualcomm masih menggunakan 28nm untuk fabrikasi prosesornya. Penurunan fabrikasi ini jelas berimpact pada penurunan suhu akibat daya yang dibutuhkan juga menurun. Intel Atom Z3580 meskipun bukan prosesor yang tercepat dibanding qualcomm, Exynos maupun Apple namun memiliki dukungan network yang kaya fitur. Chip modem yang tertanam pada prosesor ini sudah mendukung jaringan LTE dengan multichannel aggregration yang menghasilkan bandwith sampai dengan 300mhz, serta fitur VoLTE dan HD Voice.Mungkin karena inilah ASUS berani mengambil keputusan untuk menggandeng kembali intel sebagai partner pada smartphone flagship Zenfone 2.

Spesifikasi Zenfone 2 yang tidak bisa dianggap remeh, dengan dukungan 4GB Ram ternyata mampu menyedot animo pengguna smartphone di indonesia khususnya para gamer. Mereka tentu sangat penasaran dengan smartphone Ram 4GB yang sudah pasti akan sangat lancar untuk bermain game sambil multitasking dengan yang lain. Nama Zenfone mulai dikenal sebagai smartphone murah namun speknya tinggi. Tidak hanya gamer yang tertarik namun kalangan biasanya pun tertarik apalagi kameranya sudah 13Mp dengan berbagai fitur.

Setelah brand ASUS booming dengan Zenfone 2, ASUS pun mulai merilis banyak produk yang menyasar hampir setiap segmen. Tenggok saja ASUS Zenfone Selfie yang menawarakan kamera depan 13Mp. Zenfone Laser, dst. Zenfone 2 telah menjadikan brand ASUS makin dikenal. Intel secara tidak langsung turut membantu boomingnya produk Zenfone namun tentu saja mengangkat reputasinya di pasar smartphone sebagai prosesor mobile yang patut diperhitungkan oleh kompetitor.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *