Antara Pro dan Kontra TKDN

Sebenarnya sudah lama pengen nulis masalah TKDN dan kali ini kebetulan lagi mood buat nulis soal TKDN. Sebelumnya buat yang belum tahu apa itu TKDN, sedikit saya jelaskan bahwa TKDN adalah aturan mengenai Tingkat Kandungan Dalam Negri. Aturan ini diterapkan untuk produk ponsel yang sudah mengusung teknologi 4G LTE. Jadi singkatnya sebuah HP dengan teknologi 4G baru bisa dijual setelah lolos TKDN.

Dalam TKDN disebutkan persyaratan minimal 20% mengandung komponen dalam negri. Saat ini kebanyakan baru sebatas perakitan saja yang dilakukan di indonesia namun bisa jadi ke depan akan ditambahkan dari sisi software juga.

Nah TKDN ini menimbulkan masalah bagi produsen yang tidak mau menjalin kerja sama dengan mitra lokal perakitan di indonesia. Banyak ponsel tidak bisa dijual secara resmi di indonesia karena belum dirakit di indonesia. Namun sejumlah brand besar sudah mematuhi aturan ini seperti Samsung dengan pabriknya di cikarang, ASUS dengan mitra sat nusa persada di batam, Smartfren, LG, dll.

Beberapa vendor seperti Xiaomi masih belum memenuhi aturan TKDN ini. Beragam kekesalan dilontarkan para fans Xiaomi karena banyak produk Xiaomi seperti Redmi 3, Redmi note 3, Mi5 tidak bisa masuk secara resmi. Walaupun sebenarnya sudah banyak beredar yang BM alias distributor yang secara jaminan garansi tentu tidak bisa diharapkan.

Banyak fans xiamoi yang menyalahkan keberadaan TKDN ini yang menurut saya kurang tepat. Fans boleh saja namun juga harus bijak melihat manfaat jangka panjang yang lebih luas. Jangan hanya karena Xiaomi tidak bisa jualan lalu TKDN dihilangkan. Ini pemikiran yang sangat picik, mau menang sendiri hanya demi sebuah HP Xiaomi. Come on guys it’s just a phone. Masih banyak ponsel selain Xiaomi kok yang speknya dan desainya setara.

Vendor lain saja mau memenuhi aturan TKDN kok, kalau Xiaomi tidak mau artinya brand xiaomi tidak menganggap indonesia sebagai pasar yang penting dan diutamakan. Padahal secara pasar indonesia tentu sangat potensial. Memang secara cost akan lebih tinggi jika dibandingkan import barang jadi namun itulah konsekuensi yang harus dihadapi jika ingin jualan di indonesia.

Justru sebagai warga negara yang baik kita mendukung adanya TKDN ini. Manfaatnya sangat besar, mampu membuka lapangan pekerjaan dan terlebih lagi transfer knowledge. Memang saat ini masih sebatas merakit namun bukan tidak mungkin ke depan sudah bisa memproduksi sendiri beberapa komponenya. Dengan memaksa vendor merakit ponsel di indonesia maka akan muncul banyak pemikiran terkait pembuatan komponen ataupun terobosan lain agar cost menjadi lebih murah dibanding import.

Terlepas masih banyaknya HP BM yang dijual bebas, bagaimanapun TKDN akan membawa negara kita tidak menjadi target konsumer saja namun menjadi basis produksi. Jika didukung dengan serius dan difasilitasi dengan baik bukan tidak mungkin nantinya akan berkembang menjadi pembuat komponen tidak hanya menjadi perakitan saja.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *