• Uncategorized
  • 2

Experience Pakai Smartphone Vivo V3 setelah 2 minggu

Sebelum masuk ke ulasan experience saya mau bercerita dulu alasan saya memilih Vivo V3 sebagai daily driver. Brand Vivo di indonesia kurang terdengar tidak seperti di indonesia. Padahal vivo ini masih satu group sama Oppo yang sekarang udah masuk brand nomer 3 di indonesia. Awal cukup ragu sama vivo tapi karena fitur yang dicari ada semua dan di range harga sesuai budget jadilah ambil smartphone ini.

Saya mencari smartphone kekinian ukuran 5 inchi. Kekinian yang saya maksud adalah yang memiliki kriteria berikut : Case alumunium/metal, ada fingerprint scanner. Selain itu saya perlu smartphone dengan Ram 3GB biar upgrade dari smartphone lama saya zenfone 2 550ml1 yang Ramnya cuma 2GB. Kebutuhan micro sd dan dual sim card mutlak buat saya. Kalaupun nggak pakai micro sd, internal storage 32GB wajib hukumnya. Berhubung handset lama tidak ada gyroscope yang jadinya kurang asik buat main VR maka sensor gyroscope menjadi mutlak buat saya. Ukuran layar saya putuskan 5 inchi saja karena lebih compact dan lebih enak untuk satu tangan. Pengalaman pakai zenfone 2 yang 5.5 ngerasa kurang compact dan ribet kalau pakai satu tangan walaupun ada one handed mode.

Ok jadi bisa disimpulkan yang saya cari memiliki kriteria beriktu:
– Layar 5 inchi
– Dual Sim
– Body metal
– Finger print
– Ram 3GB
– Dedicated micro SD
– Sensor Gyroscope

semua itu ada di smartphone vivo V3 yang saya dapatkan dengan harga 2,6an juta saja potong bonus dari elevenia. Membandingkan dengan beberapa smartphone yang punya fitur tersebut agak susah. Terutama masalah dedicated micro SD. Giliran ada micro SD malah nggak ada finger print. Giliran ada yang komplit eh malah nggak ada gyroscopenya. Untuk ukuran 5 inchi bisa dibilang Vivo V3 punya semuanya.

Bicara kelebihan nggak enak kalau nggak bahas kekurangannya. Berikut kekurangan yang saya rasakan:
– Tidak support quick charge. Ini yang agak kecewa karena Vivo V3 sudah pakai snapdragon 616 dan masuk list qualcomm tapi nyata memang g support quick charge walau di charge pakai adaptor yang support quick charge. Semoga pihak Vivo mau mengaktifkan fitur ini. Mungkin supaya nggak membunuh sodaranya si Vivo V3 Max yang support quick charge
– OS masih lolipop 5.1. Belum ada marshmallow dan kabarnya tidak dapat update android M. Menurut saya tidak ada yang special banget dari android M jadi stay di android 5.1 untuk 1-2 tahun ke depan masih ok lah
– Led notifikasi yang cuma ada warna hijau. Ini cukup merepotkan karena notif led di app harus di set ke warna hijau kalau mau menyala.

So far 3 kelemahan dari lahir yang menurut saya tidak bisa terelakan. Langsung saja masuk ke bahasan utama. Di sini saya tidak banyak membahas soal spek dan bahkan desain gambarnya. Semua bisa didapatkan di website lain karena sudah banyak yang bahas.

Desain Ponsel
Desain Vivo V3 cukup compact dan tipis. Bahannya metal dan enak digenggam baik menggunakan 2 tangan maupun satu tangan. Karena masih sayang bodi jadi dipakein softcase bening bawaanya. Penggunaan softcase tidak membuat ponsel jadi bulky atau terasa tebal dan masih enak digemgang. Selama pengoperasian tidak terasa panas kecuali jika digunakan untuk main game. Panas yang dihasilkan untuk gaming atau aplikasi berat lainnya masih tergolong wajar.

UI
Soal UI terus terang experiencenya sangat berbeda. Desain UI-nya bisa dibilang campuran android dan iPhone yaitu menggunakan single layer icon. Task manager dan Icon setting ditarik dari bawah, tidak seperti kebanyakan android yang discroll dari atas ke bawah. Terus terang saya menyukai gaya UI seperti ini. Sekian lama pakai android paling males dan bosan harus tarik bar notifiksi dari atas ke bawah. Soal notifikasi memang sama dengan android lain yaitu tarik dari status bar ke bawah tetapi di UI ini memberikan beberapa aplikasi seperti BBM, Whatsapp, SMS, Email yang memiliki notification count di icon. jadi ketika ada notif akan muncul di icon app tersebut. Hal ini buat saya cukup memudahkan karena tidak perlu scroll tapi bisa langsung tap iconnya.

Beberapa catatan yang tidak mengenakkan kalau notif sudah dibuka kemudian ke lock screen menjadi tidak muncul lagi di layar depan. Notifikasi pada saat lock screen tidak bisa ditarik ke bawah untuk melihat previewnya, jika ada banyak pesan masuk pada kondisi lock screen tidak kelihatan previewnya. Harus unlock dan scroll status bar untuk melihat previewnya. Aplikasi spotify tidak muncul di layar lock screen, untuk aplikasi bawaan muncul di lock screen.

Multitasking
Banyak yang bilang spek tinggi tapi UI lag, multitasking lemot, dsb. Android karena saking opennya jika tidak dioptimize dengan baik menyebabkan resource hardware tidak teralokasi dengan baik. Di Vivo V3 saya hampir tidak merasakan lag. Penggunaan ram 3GB mungkin membantu karena ram hanya terpakasi 60-70% saja. Perpindahan antar app smooth dan saat buka app tidak ada lag. Mungkin karena masih 2 minggu, saya perlu test sekitar 1 bulan lebih apakah masih smooth atau tidak seiring bertambahnya cache di ponsel.

Satu fitur yang cukup membantu adalah split view. untuk app tertentu bisa menampilkan 2 windows. Contohnya ketika sedang melihat video di youtube dan ada notif dari whatsapp. Kita bisa menampilkan windows whatsapp dan menulis pesan sambil tetap nonton video di youtube.

Multimedia
Soal multimedia hampir cukup ok. Layar terang dan suara mantab karena speaker ada di bawah jadi walaupun diletakan di atas kasur suara masih tetap terdengar. Hi-FI menjadi salah satu andalan vivo V3, dengan chip musik AK4375 yang bisa dipakai di music player mahal, suara ketika mengguna headset jadi terasa lebih detail. Selain itu ada pengaturan khusus untuk beberapa handset sayangnya tidak banyak pilihannya. So far dari segi audio vivo v3 bisa dibilang juara dibanding smartphone lain di kelasnya

Fitur gesture dan sensor 
Gesture yang ada di Vivo V3 bisa saya bilang lengkap. Double tap to wake/off bisa dijalankan dengan lancar. Ada shorcut di lock screen untuk membuka camera atau diset untuk aplikasi lain. Gesture untuk membuka aplikasi dengan menggambar symbol. Selain bawaan kita diberi opsi untuk mengambar sendiri dan menentukan app yang dibuka. Tidak cuma soal shortcut, Vivo v3 punya opsi untuk mengatur layar ketika sedang ditatap maka layar tidak akan redup dan ketika tidak ditatap layar mati. Fitur screen on ketika di keluarkan dari saku dan fitur air wave yaitu mengerakan tangan tanpa menyentuh layar. Untuk mute call dengan flip layar maupun menerima panggilan dengan di dekatkan telinga juga ada. Pokoknya lengkap masalah gesture dan sensornya.

Battery
Kapasitas battery 2550 menurut saya pas untuk ukuran layar full HD. Saya menggunakan dual sim dengan koneksi 4G. Dari pagi jam 8 sampai malam jam 8 battery ponsel masih sisa 20-30%. Pemakaian saya kebanyakan untuk email, chat dan sosmed saja. Sayangnya di Vivo V3 tidak ada menu untuk melihat screen on time. Menurut saya pribadi untuk penggunaan dual sim termasuk irit. Jika menggunakan Wifi bisa lebih irit lagi.

Update OS
Selama saya pakai sudah mendapat 2x update tapi informasi patch securitynya tidak ada sehingga tidak bisa tahu apakah sudah menggunakan patch update security terbaru.

Security
Karena saya security freak ini jadi bagian yang tidak lepas dari review saja. Vivo menggunakan fingerprint scanner yang cepat untuk unlock layar. Kelemahannya karena ada di belakang jadi susah ketika dioperasikan di meja. Fitur tambahan security di Vivo ada di aplikasi iManager. Di aplikasi ini ada fitur untuk scan junk file dan optimalisasi. Nah yang menarik adalah fitur pengaturan permission. Ini mirip seperti di android marshmallow. Kita bisa melihat satu per satu app diberikan permission apa saja dan kita bisa mengaturnya. Untuk privace iManager menawarkan fitur private space. Fitur ini dapat mengenkripsi file video, audio, doc dan app. Unlocknya menggunakan pattern atau finger print. Jadi jika kita ada file sensitif di Micro SD bisa dienkripsi dengan iManager ini. OS bawaan tidak memberikan opsi untuk enkripsi internal storage maupun micro sd, Namun hal ini bisa diakali dengan melalukan enkripsi menggunakan iManager. Lebih flexible untuk memilih file dibanding full encrytion.

Secara overall experience menggunakan Vivo V3 nyaris tanpa kendala. Semuanya smooth dan banyak fitur bawaan yang berguna. Tidak banyak bloatware yang mengganggu. Perfoma dan daya tahan battery seimbang.

Bagi yang mencari HP dengan fitur seperti yang saya sebutkan di atas bisa dipertimbangkan memilih Vivo V3. HP ini masuk resmi di indonesia dan akan segera membangun pabrik seperti saudaranya Oppo jadi jangan takut masalah garansinya.

You may also like...

2 Responses

  1. Begin says:

    Mau nanya, untuk kameranya sendiri baik depan dan belakang hasilnya gimana? terus sampai pemakaian sekarang apa performanya bagus, apa pernah ada keluhan seperti error atau hang? makasih

    • Benidiktus Bina Kurniawan says:

      Kamera depan belakang sih hasilnya lumayan ya. Pilihan opsi manualnya banyak. Selama ini nggak ada keluhan untuk hang maupun error ya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *